Pendapatan warga Orang Asli Papua (OAP) di Manokwari meningkat lebih dari tiga kali lipat setelah memperoleh pendampingan dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP). Peningkatan tersebut dicapai melalui pelatihan pengolahan hasil kebun, pengembangan produk bernilai tambah, serta pembukaan akses pemasaran yang lebih luas. Berdasarkan informasi yang disadur dari Disway, pendapatan warga yang sebelumnya mengandalkan hasil ladang berpindah sekitar Rp700.000 per bulan naik menjadi sekitar Rp2.400.000 per bulan.
Pengolahan Hasil Kebun Membuka Nilai Ekonomi Baru
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menjelaskan, perubahan pendapatan tersebut terjadi setelah masyarakat mendapatkan pelatihan untuk mengolah komoditas lokal menjadi produk siap jual. Pendekatan ini membantu warga tidak hanya menjual hasil kebun dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga memperoleh nilai ekonomi dari proses produksi, pengemasan, dan pemasaran. Dengan demikian, hasil pertanian yang tersedia di sekitar permukiman dapat menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil.
Salah satu contoh pengembangan produk dilakukan terhadap buah matoa. Komoditas yang sebelumnya dijual sebagai hasil kebun diolah menjadi dodol, kemudian dipasarkan melalui jaringan supermarket. Pengolahan tersebut memperpanjang rantai nilai produk sekaligus memperluas konsumen, sehingga peluang pendapatan warga tidak lagi bergantung pada penjualan langsung di tingkat lokal.
Komoditas lain seperti cabai dan tomat juga dikembangkan menjadi food leather, yakni produk olahan berbentuk lembaran yang memiliki masa simpan lebih panjang. Inovasi ini menjadi solusi atas karakter hasil hortikultura yang mudah rusak apabila tidak segera terserap pasar. Selain mengurangi potensi kerugian, pengolahan cabai dan tomat memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menghasilkan produk dengan harga jual yang lebih kompetitif.
Pendampingan Berbasis Kebutuhan Lapangan
Iftitah mengatakan, capaian tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi masyarakat tidak selalu harus diawali dengan investasi berskala besar. Potensi lokal yang sudah tersedia dapat dikembangkan melalui peningkatan keterampilan, penerapan teknologi sederhana, perbaikan kemasan, dan penguatan akses pasar. “Kita mulai dari langkah-langkah kecil, tetapi hasilnya harus terukur dan benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Iftitah, Kamis (17/9).
Model pendampingan TEP di kawasan transmigrasi Papua dirancang berdasarkan persoalan yang ditemukan secara langsung di lapangan. Tim yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi tidak hanya membantu pengembangan usaha, tetapi juga mengidentifikasi kebutuhan warga dalam bidang pendidikan, telekomunikasi, air bersih, dan energi alternatif. Keterlibatan akademisi diharapkan membuat solusi yang dirancang lebih sesuai dengan kondisi geografis, sosial, dan ekonomi setiap wilayah.
Dalam konteks pembangunan daerah, pendekatan tersebut memperlihatkan pentingnya keterhubungan antara peningkatan kapasitas masyarakat dan dukungan infrastruktur dasar. Produk lokal akan lebih mudah berkembang apabila warga memiliki pengetahuan produksi, akses komunikasi, saluran distribusi, serta ketersediaan energi dan air yang memadai. Karena itu, kerja TEP mencakup aspek ekonomi sekaligus penguatan lingkungan pendukung agar kegiatan usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.
Kenaikan pendapatan dari Rp700.000 menjadi Rp2.400.000 per bulan menjadi indikator konkret bahwa pendampingan berbasis potensi lokal dapat memberi dampak langsung terhadap kesejahteraan OAP. Ke depan, keberlanjutan program akan sangat bergantung pada konsistensi pembinaan, kualitas produk, kepastian pasar, dan kemampuan kelompok usaha menjaga produksi. Jika unsur-unsur tersebut terus diperkuat, pengolahan hasil kebun dapat menjadi salah satu fondasi kemandirian ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi Papua.


