Gugusan pulau karang karst yang menjulang di atas air laut sebening kristal di Raja Ampat kembali memikat pelancong dan penyelam dari seluruh penjuru dunia. Memasuki kuartal pertama tahun 2026, tingkat okupansi resor ramah lingkungan dan kapal liveaboard melonjak hingga 85 persen.
Konservasi Berbasis Masyarakat Adat
Keberhasilan ekowisata Raja Ampat bertumpu pada tradisi adat 'Sasi'—sebuah kearifan lokal yang melarang penangkapan biota laut di zona tertentu selama periode waktu khusus demi menjaga keberlanjutan ekosistem karang.
"Raja Ampat bukan sekadar destinasi liburan, melainkan laboratorium keanekaragaman hayati laut dunia. Sekitar 75 persen spesies karang global hidup subur di perairan ini," ungkap Koordinator Konservasi Bahari, Hendrikus Marani.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Lokal
Melalui retribusi kartu tanda masuk kawasan konservasi, dana dialokasikan langsung untuk pendidikan anak-anak suku pesisir, penyediaan air bersih desa, serta permodalan homestay milik warga lokal.